Tuesday, 17 January 2017

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan


Aku, jiwa-jiwa yang rapuh. Jiwaku mudah terjatuh, kemudian pecah berkeping-keping. 

-Itu adalah gambaran setelah aku mengenalmu


Mengenalmu tak perlu waktu. Mengenalmu, cukup dengan duduk kedinginan berjam-jam mendengarkan. Mengenalmu, cukup menjadi sebal, lalu kamu akan meminta maaf dengan sendirinya. Aku tak pernah berharap kau datang lalu memorak-porandakan semestaku. Aku tak pernah berharap kau mendatangiku, lalu menjadikannya rumah singgah.

Karena aku tahu, semua itu berlaku sementara.

Sampai waktunya nanti, kau kembali pada hidup yang serba berkecukupan di mana seharusnya kau berada; langit. Dan aku tetap akan menjadi rumah bagi siapapun yang hendak singgah; bumi.

Kalau boleh berlebihan, aku dan kamu merupakan perwujudan dari Yin dan Yang. Kita sangat bertolak belakang, kau tahu. Kau dengan lagakmu yang modernitas karena memang dilahirkan di jantung negara yang penuh dengan wajah-wajah bertopeng, tikus berdasi, hartawan, seniman, orang pinggiran yang berakhir di panggung sandiwara, bahkan gedung pencakar ada di mana-mana. Sedangkan aku... ya aku, sudah dari lahir menjadi tuan rumahmu yang biasa-biasa saja.

Kotaku yang biasa-biasa saja menuntunku pada kesederhanaan, bukan keserakahan. Kau mencari kopi di sini, bisa kau jual 2x lipat di Maldiven van Java sana. Sejujurnya, aku belum pernah mencoba minuman dengan merk dagang 'dolar bintang', tidak seperti rekan-rekanmu yang menjadikan minuman tersebut seperti halnya air putih.

Kau pun tak perlu merasa malu untuk naik kereta menuju kotaku. Kota dengan aroma khas bunga tujuh rupa serta tabuhan gamelan akan menyambutmu bak raja yang turun dari singgasananya. Pun aku. Aku akan dengan senang hati menyambutmu, untuk kembali ke rumah kakek-nenekmu.

Indomaret, malam hari...

Jauh-jauh hari ketika tangisku meledak, aku ingin mengikhlaskan segala rasa yang berkecamuk dan mengikat. Pun ingin melupakan segala hal tentang aku-dan-kamu. Jadi, aku putuskan untuk membencimu dan juga membuatmu benci padaku, dengan cara yang keliru. Kuingat, aku menangis sejadi-jadinya ketika rindu itu datang dan tak berbalas. Namun kini, ketika semua amarah itu sudah reda, aku menjadi menyesal atas semua kata-kataku yang sangat menusuk. Kuakui, emosi telah menguasaiku waktu itu. Aku salah.

Lalu aku tahu besok kau akan datang. Aku sudah menyiapkan segala kebutuhan yang mungkin kau inginkan. Biarlah sesekali aku belanjakan uang(yang sebenarnya untuk kebutuhan lain)ku untuk melukis senyum di wajahmu.

Karena kalau tidak salah ingat, percakapan terakhir kita begitu panas, dan juga kaku. Lalu aku mulai khawatir ketika segala ucapan kasarmu keluar. Kau keras, dan idealis.

Stasiun, sekitar pukul tujuh pagi...

Palang kereta yang manghadang jalan di depanku, merupakan tanda bahwa kau sudah sampai Jogja. Atau setidaknya mendekati stasiun yang ku tuju. Dan kalau boleh, sebetulnya waktu itu kau hanya beberapa meter di depanku, namun kita sama-sama tak tahu. Bersama asap kendaraan yang lain, aku menunggu. Memang terkadang menunggu itu menyebalkan, apalagi menunggu kepastian.

Di tanganku, aku membawa bubur ayam untukmu. Aku yakin kau menghabiskan delapan jam perjalananmu dalam kereta tanpa makanan berat. Kuyakin kau belum makan, rasa yakin itu mengalahkan ketakutanku akan sikapmu nanti.

Ruang tunggu stasiun, sekitar pukul 7.15...

Aku duduk, lagi-lagi menunggu. Aku tak tahu apa pakaianmu, bagaimana rupamu, dan sedang di mana kamu waktu itu. Terakhir kali kita berkomunikasi, yaitu kemarin pukul 8 malam, sudah lama sekali. Bahkan saat ini, aku tidak membawa hape dan jam. Lengkaplah aku.

"Mas, maaf, kalau boleh tahu saat ini pukul berapa?"
"Oh, terimakasih mas. Kereta Jakarta-Jogja sudah sampai belum ya?"
"Mau jemput temen hehe."
"Oh. Kurang tahu kalau nomornya, malah ndak tanya hehe."
"Lupa bawa hape."
"Makasih banyak mas."

Lalu aku mulai mengamati sekitar. Mataku terkunci pada laki-laki bertopi yang duduk tak jauh dari kursiku. Ku lihat dari samping, wajahnya menyerupai wajahmu. Lelaki berwajah tirus yang sangat berbeda degan kakak dan adiknya. Lalu wajah itu, tiba-tiba bergerak, menoleh ke arahku. Mata kita sama-sama bertemu sekian menit, cukup lama. Kamu dengan raut muka yang datar menatapku tak wajar.

Aku tak yakin itu kamu.

Lelaki itu langsung berdiri, menuju parkiran. Aku ikut berdiri beberapa detik setelahnya, baru sadar akan sesuatu. Bahkan aku lupa mengucapkan perpisahan pada orang baik di sebelahku. Aku hanya menoleh pada teman baikku yang rupanya juga memperhatikanku.

"Kok ndak ngabari?"
"Hapeku kan wifi only."

Hanya itu percakapan pertama kita. Tanpa kabar, tanpa senyum. Dengan langkah yang sedikit terkesan tergesa-gesa.

"Parkir mane?"

Aku berikan kunci motorku. Sedikit ragu, aku duduk di belakangnya. Itu pertama kali kami berboncengan, kedua kali kami pergi berdua.

"Baru bangun ye."
"Bangun jam berape?"

Pertanyaan demi pertanyaan mulai keluar selama perjalanan yang sedikit tegang.

Indomaret point, sekitar pukul setengah delapan...

Aku harus ingat, bahwa menyukaimu merupakan akibat dari tingkahmu yang menyebalkan. Aku menyukaimu, karena wujud perhatianmu padaku, yang kau lakukan secara diam-diam.

Sudah kubilang padamu aku membawa bubur. Aku duduk, namun kamu malah membeli chiki dan minuman. Aku mulai menduga kamu akan menolak pemberianku.

"Makan."
"Ndak makan ini aja dah kenyang."
"Beneran?"
"Iye bawel."
"..."
"Kalo ngantuk bobo aja."
"Ndak lah."
"Mau kagak?"
"Ndak, makasih."

Apakah kau tahu aku sedikit sedih, tak tahukah jika aku sudah menyiapkan bubur untukmu di pagi hari, dan menyiapkan kotak makannya, dan menaruh sedikit harap padanya?

"Kalo ngantuk pulang aje, nanti sampe jam 12 keknya."
"Kagak."

Lalu kami mulai mengobrol. Sedikit cair.

Gelanggang, pukul 8 tepat...

Sebelumnya aku tak paham apa tujuanmu kembali ke Jogja di saat liburan begini. Kedatanganmu begitu mendadak, dan terkesan terlalu cepat. Terlalu aneh untuk tidak ditanyakan. Dan ketika aku mengetahui jawabanmu, aku mulai paham akan kesibukanmu dan prioritasmu padanya.

Kuakui, itulah sifat yang membuat kita sejalan. Sifat itulah yang membuatmu masih bertahan, dan aku menjadi menghargaimu. Hingga akhirnya, membuat bahan obrolan kita menjadi tidak terbatas.

Cafetaria, sekitar pukul setengah 12...

"Mau makan mane?"
"Sambil jalan aja mikirnya."
"Mampir asrama bentar ye, mau ambil barang."

Kau, manusia setengah kambing yang menyebalkan, tapi kuakui juga kurindukan. Aku tahu, sifat burukmu merupakan akibat dari pergaulan di kota tempat tinggalmu, Jakarta. Namun setelah kugali lebih dalam, kau wajar dan kau masih-lebih-baik di bandingkan dengan rekan-rekanmu yang lain. Sikapmu yang baik dan sangat menghargai orang, itu yang kusuka.

Asrama Putra UGM, sekitar pukul 12 lebih... 

"Tunggu luar aje ye, satpam rada bangsat dah tua padahal. Agak susah."
"Aku tuh jarang di asrama kok."
"Makan mane nih."

Ada temanku yang bingung bagaimana-aku-bisa -menyukai-orang-kasar-sepertimu. Bagaimana bisa aku jatuh hati pada semua sifat burukmu yang mengalahkan sifat baikmu. Aku selalu menjawabnya dalam hati, bahwa kamu tidak seburuk yang orang pikir. Orang-orang itu hanya melihatmu dari luar, dan memang sayangnya luaranmu memang buruk. Namun hatimu sungguh baik. Mereka hanya kurang dalam mengenalmu.

Indomaret point, sebelum kepergianmu...

Aku membencimu ketika kamu mulai serius, walaupun aku butuh keseriusanmu. Namun aku membencinya, apalagi ketika mulai membahas masa lalu. Hal yang tak penting untuk diperbincangkan.

Namun aku senang, akhirnya suasana sudah benar-benar cair, karena dengan begitu aku sudah bisa melepaskanmu secara ikhlas.

Stasiun, 14.05...

"Makasih Ica."


Yogyakarta, 17 Januari 2017





---

Terimakasih kembali untukmu, teman. Terimakasih telah mempercayaiku menjadi teman yang kau butuhkan. Terimakasih telah memaafkan kesalahanku ketika emosi meruntuhkan semua sisi baikku. Terimakasih karena selama satu semester ini, kamu yang mewarnai kehidupan kuliahku. Terimakasih kamu berhasil membuatku senyum-senyum sendiri. Terimakasih telah mengajariku banyak hal, banyak sekali. Terimakasih telah menjadi guru yang baik. 
Aku akan kembali pada kehidupanku yang stagnan. Aku akan kembali tenggelam dalam kehidupanku yang penuh repetisi membosankan. 

No comments:

Post a Comment