Tuesday, 19 July 2016

Di Bawah Atap langit




"Nisa, ayo masuk nak, sudah malam"

Namanya Nisa. Usianya setara dengan adikku, bahkan hari ulang tahun mereka sama. Bedanya, Nisa tak pernah diberi kesempatan melihat rupa keluarganya barang sedetik pun. Sudah menjadi kebiasaanku untuk menemani Nisa hingga terlelap. 'Kak Isa, Nisa titip salam untuk ayah dan bunda. Bisa?' Betapa lugunya dia. Nisa gadis cantik dengan raut sendu itu, adalah kebanggan rumah kami, rumah Atap Langit. Nisa senang mengulurkan tangan kecilnya untuk membantu kami.

Rumah Atap Langit ini sudah lama sekali semenjak didirikan pertama kali, kata Ibuk  malah sudah ada sejak zaman Belanda. 'Who knows'. Rumah ini tidak akan berdiri tanpa Bunda. Saat itu, Bunda sakit keras. Tanah, sawah telah digadaikan untuk biaya pengobatan Bunda di rumah sakit. Walau begitu, tetap saja Bunda terkulai lemah. Tak ada yang tahu penyakit yang diderita Bunda, Bunda ingin merahasiakannya. Anak-anak kandung Bunda yang telah sampai di perantauan, segera memesan tiket pesawat tercepat ke Yogyakarta. Anak-anak itu membanting tulang untuk membiayai pengobatan Bunda yang masih sangat jauh dari kata cukup. Berbulan-bulan tubuh Bunda dipasangi selang infus, seakan hidup mati bunda ditentukan oleh selang yang menggerogoti tubuh wanita muda itu. Anak-anak kandung Bunda, termasuk Ibuk, telah mengusahakan berbagai cara agar Bunda tetap hidup. Saat bulan Ramadhan tiba, tak jarang Ibuk dan saudara-saudaranya berjubel di pinggir alun-alun kota, menjajakan berbagai jenis makanan untuk berbuka. Karena rumah Bunda telah menjadi korban mahalnya biaya rumah sakit, mereka harus mendirikan tenda darurat di alun-alun untuk memasak. Namun malah karena masak di tempat, aroma harum masakanlah yang berhasil menarik minat pembeli. Mereka mencium bau harum masakan, lantas siapa yang tahan dengan bau sedap?

Setelah semua habis, anak-anak kandung Bunda kembali ke rumah sakit. Rumah sakit inilah satu-satunya atap yang dimiliki Bunda. Walau tak sepenuhnya milik Bunda, namun keluarga Bunda bersyukur masih dapat tidur dalam atap yang hangat. Berbulan-bulan semenjak bunda diboyong ke rumah sakit, kondisi Bunda sama saja, tak sadarkan diri. Anak-anak kandung bunda nyaris pasrah akan keadaan Bunda yang tak kunjung membaik, saat keajaiban itu menghampiri. Bunda sadar.

Setelah keadaan kunjung membaik, bunda pindah ke salah satu rumah anaknya yang ada di Solo. Di sana, bunda mulai bercerita. "Bunda melihat banyak anak kecil di jalanan, mereka tak punya atap untuk berlindung dari hujan, tak ada rumah yang menghangatkan badan mereka dari angin malam. Hanya langit, langitlah yang menghidupi mereka. Mereka hidup, beratapkan langit, membawa sejuta kebahagiaan yang hendak mereka tawarkan pada orang-orang. Hanya saja terkadang orang tersebut tidak sadar akan kehadiran anak-anak itu. Tak jarang mereka di maki, tak jarang mereka berlari dari kejaran petugas-petugas yang buta harta, tak jarang mereka meratapi nasib mereka sebagai anak jalanan."

Setelah bercerita, Bunda mengakhiri 'sejak itulah Bunda berjanji akan berusaha menghidupi anak-anak tersebut'. Maka berdirilah yayasan ini, yayasan Atap Langit. Ibuklah yang mengurusi yayasan ini, saat menemukanku.

Aku memang bukan anak jalanan yang harus menengadahkan tangan untuk bisa makan. Aku punya ayah, ibu, dan adik perempuan yang melengkapi hari-hariku sebagai pelajar di salah satu SMA di Yogyakarta. Keluarga kami tak pernah ada yang sakit sampai harus opname di rumah sakit. Hanya aku satu-satunya anak yang paling nakal di rumah. Umurku masih 7 tahun, saat sebuah motor ninja berhasil membuatku terlempar dari jalanan. Aku yang langsung di bawa ke rumah sakit, disambut ayahku dengan mata yang sudah sangat merah. Aku tahu ayahku menangis, aku tahu.  Setelah itu aku berjanji tak akan main-main lagi dengan nyawa.

Namun rupanya, takdir berkata lain. Saat itu aku masih berada di rumah teman, mengerjakan laporan praktikum yang sudah harus terkumpul esoknya. Matahari hampir tak nampak batangnya, suara adzan berkumandang di antara deruan kendaraan yang melaju  di sepanjang jalan Kota Baru. Lampu-lampu jalan yang baru saja dihidupkan, menghidupkan suasana menyambut malam yang sendu. Keluargaku, menggunakan mobil lamanya berencana mengunjungi kerabat kami yang opname di rumah sakit. Berita dadakan, membuat keluargaku segera menginjak gas pol di jalanan yang licin akibat hujan. 'Duarr,' tabrakan tak terelakkan. Bukan, bukan keluargaku yang mengalami tabrakan. Dua buah motor saling bertabrakan di jalanan yang licin itu. Salah satunya terlempar ke arah mobil ayahku yang berada tak jauh di belakangnya. Ayahku mencoba menghindar, namun gagal. Mobilku menabrak pembatas jalan. Deru sirine ambulan mengagetkanku. Aku yang sedang dalam perjalanan pulang, kaget melihat mobilku yang ringsek ditarik mobil polisi. Aku bertanya ini-itu pada polisi yang berusaha menetralkan jalan. Tangisku disambut hujan malam itu. Kami sama-sama menangis, hingga sulit membedakan antara tangisku dan tangis cakrawala yang iba melihat para manusianya yang tak pernah merasa cukup. Bersyukurlah.

Ayah, ibu, dan adik perempuanku sudah dibalut kain putih saat aku terjatuh di depan kamar jenazah. Aku merasa, hidupku sudah usai. Aku tak punya apa-apa lagi. Takdir berkata lain. Selalu terngiang dalam benak, saat ayahku selalu mewanti-wanti untuk berhati-hati saat berkendara, ibuku yang tak lupa mendoakan 'hati-hati di jalan, nak', adikku yang melambaikan tangan ke arahku dengan senyum terlebar yang pernah ada. Mereka selalu tersenyum, apapun yang terjadi. Itu yang membuatku tak sanggup untuk membuka kain putih yang menghangatkan tubuh mereka. Aku tahu, bahkan di saat-saat terakhir seperti ini, senyum selalu tertinggal di wajah mereka.

Seiring waktu, kesedihanku sirna. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Dengan mengabdi di yayasan ini, aku kira dapat melupakan semua kesedihanku. Apalagi malam itu, saat hendak membeli satai di depan yayasan, tanpa sengaja aku melihat bayi perempuan di taruh di pintu samping yayasan. Lantas kuberi nama Nisa, seperti nama adikku, seperti namaku.

Aku yang membesarkan Nisa. Ketika meihat ke dalam matanya, seakan aku melihat senyum adikku saat melepaskankanku ke sekolah. Air mata yang menggantung di ujung mataku, terjatuh.

"Kak Isa, Nisa titip salam untuk ayah dan bunda. Bisa?"
"Ah, tentu saja. Akan kuucapkan padanya saat kau tidur nanti."
"Terimakasih kak, sudah membesarkan Nisa dengan kasih sayang. Terimakasih telah menyampaikan salam. Sayang kakak"
"..."

Tentu, aku selalu menyampaikan semua salam anak-anak panti, termasuk salamku untuk semua keluargaku. Aku menaiki atap, membawa buku harian serta teh hangat, lantas tersenyum pada langit, berterimakasih atas segala nikmat yang telah diturunkan ke yayasan Atap Langit ini. Aku bersyukur, karena doaku akan langsung didengar oleh langit yang berhiaskan bintang-bintang.

Aku bersyukur karena sampai kapanpun, adikku akan terus bersama orangtuanya, tidak menanggung beban pertanyaan seperti Nisa. Aku bersyukur, karena telah dipertemukan dengan Nisa, keluargaku di bawah Atap Langit ini. Kami tak berbeda.


A. Paramudita (Yogyakarta, 2016)

No comments:

Post a Comment