Tuesday, 19 July 2016

Di Bawah Atap langit




"Nisa, ayo masuk nak, sudah malam"

Namanya Nisa. Usianya setara dengan adikku, bahkan hari ulang tahun mereka sama. Bedanya, Nisa tak pernah diberi kesempatan melihat rupa keluarganya barang sedetik pun. Sudah menjadi kebiasaanku untuk menemani Nisa hingga terlelap. 'Kak Isa, Nisa titip salam untuk ayah dan bunda. Bisa?' Betapa lugunya dia. Nisa gadis cantik dengan raut sendu itu, adalah kebanggan rumah kami, rumah Atap Langit. Nisa senang mengulurkan tangan kecilnya untuk membantu kami.

Rumah Atap Langit ini sudah lama sekali semenjak didirikan pertama kali, kata Ibuk  malah sudah ada sejak zaman Belanda. 'Who knows'. Rumah ini tidak akan berdiri tanpa Bunda. Saat itu, Bunda sakit keras. Tanah, sawah telah digadaikan untuk biaya pengobatan Bunda di rumah sakit. Walau begitu, tetap saja Bunda terkulai lemah. Tak ada yang tahu penyakit yang diderita Bunda, Bunda ingin merahasiakannya. Anak-anak kandung Bunda yang telah sampai di perantauan, segera memesan tiket pesawat tercepat ke Yogyakarta. Anak-anak itu membanting tulang untuk membiayai pengobatan Bunda yang masih sangat jauh dari kata cukup. Berbulan-bulan tubuh Bunda dipasangi selang infus, seakan hidup mati bunda ditentukan oleh selang yang menggerogoti tubuh wanita muda itu. Anak-anak kandung Bunda, termasuk Ibuk, telah mengusahakan berbagai cara agar Bunda tetap hidup. Saat bulan Ramadhan tiba, tak jarang Ibuk dan saudara-saudaranya berjubel di pinggir alun-alun kota, menjajakan berbagai jenis makanan untuk berbuka. Karena rumah Bunda telah menjadi korban mahalnya biaya rumah sakit, mereka harus mendirikan tenda darurat di alun-alun untuk memasak. Namun malah karena masak di tempat, aroma harum masakanlah yang berhasil menarik minat pembeli. Mereka mencium bau harum masakan, lantas siapa yang tahan dengan bau sedap?

Setelah semua habis, anak-anak kandung Bunda kembali ke rumah sakit. Rumah sakit inilah satu-satunya atap yang dimiliki Bunda. Walau tak sepenuhnya milik Bunda, namun keluarga Bunda bersyukur masih dapat tidur dalam atap yang hangat. Berbulan-bulan semenjak bunda diboyong ke rumah sakit, kondisi Bunda sama saja, tak sadarkan diri. Anak-anak kandung bunda nyaris pasrah akan keadaan Bunda yang tak kunjung membaik, saat keajaiban itu menghampiri. Bunda sadar.

Setelah keadaan kunjung membaik, bunda pindah ke salah satu rumah anaknya yang ada di Solo. Di sana, bunda mulai bercerita. "Bunda melihat banyak anak kecil di jalanan, mereka tak punya atap untuk berlindung dari hujan, tak ada rumah yang menghangatkan badan mereka dari angin malam. Hanya langit, langitlah yang menghidupi mereka. Mereka hidup, beratapkan langit, membawa sejuta kebahagiaan yang hendak mereka tawarkan pada orang-orang. Hanya saja terkadang orang tersebut tidak sadar akan kehadiran anak-anak itu. Tak jarang mereka di maki, tak jarang mereka berlari dari kejaran petugas-petugas yang buta harta, tak jarang mereka meratapi nasib mereka sebagai anak jalanan."

Setelah bercerita, Bunda mengakhiri 'sejak itulah Bunda berjanji akan berusaha menghidupi anak-anak tersebut'. Maka berdirilah yayasan ini, yayasan Atap Langit. Ibuklah yang mengurusi yayasan ini, saat menemukanku.

Aku memang bukan anak jalanan yang harus menengadahkan tangan untuk bisa makan. Aku punya ayah, ibu, dan adik perempuan yang melengkapi hari-hariku sebagai pelajar di salah satu SMA di Yogyakarta. Keluarga kami tak pernah ada yang sakit sampai harus opname di rumah sakit. Hanya aku satu-satunya anak yang paling nakal di rumah. Umurku masih 7 tahun, saat sebuah motor ninja berhasil membuatku terlempar dari jalanan. Aku yang langsung di bawa ke rumah sakit, disambut ayahku dengan mata yang sudah sangat merah. Aku tahu ayahku menangis, aku tahu.  Setelah itu aku berjanji tak akan main-main lagi dengan nyawa.

Namun rupanya, takdir berkata lain. Saat itu aku masih berada di rumah teman, mengerjakan laporan praktikum yang sudah harus terkumpul esoknya. Matahari hampir tak nampak batangnya, suara adzan berkumandang di antara deruan kendaraan yang melaju  di sepanjang jalan Kota Baru. Lampu-lampu jalan yang baru saja dihidupkan, menghidupkan suasana menyambut malam yang sendu. Keluargaku, menggunakan mobil lamanya berencana mengunjungi kerabat kami yang opname di rumah sakit. Berita dadakan, membuat keluargaku segera menginjak gas pol di jalanan yang licin akibat hujan. 'Duarr,' tabrakan tak terelakkan. Bukan, bukan keluargaku yang mengalami tabrakan. Dua buah motor saling bertabrakan di jalanan yang licin itu. Salah satunya terlempar ke arah mobil ayahku yang berada tak jauh di belakangnya. Ayahku mencoba menghindar, namun gagal. Mobilku menabrak pembatas jalan. Deru sirine ambulan mengagetkanku. Aku yang sedang dalam perjalanan pulang, kaget melihat mobilku yang ringsek ditarik mobil polisi. Aku bertanya ini-itu pada polisi yang berusaha menetralkan jalan. Tangisku disambut hujan malam itu. Kami sama-sama menangis, hingga sulit membedakan antara tangisku dan tangis cakrawala yang iba melihat para manusianya yang tak pernah merasa cukup. Bersyukurlah.

Ayah, ibu, dan adik perempuanku sudah dibalut kain putih saat aku terjatuh di depan kamar jenazah. Aku merasa, hidupku sudah usai. Aku tak punya apa-apa lagi. Takdir berkata lain. Selalu terngiang dalam benak, saat ayahku selalu mewanti-wanti untuk berhati-hati saat berkendara, ibuku yang tak lupa mendoakan 'hati-hati di jalan, nak', adikku yang melambaikan tangan ke arahku dengan senyum terlebar yang pernah ada. Mereka selalu tersenyum, apapun yang terjadi. Itu yang membuatku tak sanggup untuk membuka kain putih yang menghangatkan tubuh mereka. Aku tahu, bahkan di saat-saat terakhir seperti ini, senyum selalu tertinggal di wajah mereka.

Seiring waktu, kesedihanku sirna. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Dengan mengabdi di yayasan ini, aku kira dapat melupakan semua kesedihanku. Apalagi malam itu, saat hendak membeli satai di depan yayasan, tanpa sengaja aku melihat bayi perempuan di taruh di pintu samping yayasan. Lantas kuberi nama Nisa, seperti nama adikku, seperti namaku.

Aku yang membesarkan Nisa. Ketika meihat ke dalam matanya, seakan aku melihat senyum adikku saat melepaskankanku ke sekolah. Air mata yang menggantung di ujung mataku, terjatuh.

"Kak Isa, Nisa titip salam untuk ayah dan bunda. Bisa?"
"Ah, tentu saja. Akan kuucapkan padanya saat kau tidur nanti."
"Terimakasih kak, sudah membesarkan Nisa dengan kasih sayang. Terimakasih telah menyampaikan salam. Sayang kakak"
"..."

Tentu, aku selalu menyampaikan semua salam anak-anak panti, termasuk salamku untuk semua keluargaku. Aku menaiki atap, membawa buku harian serta teh hangat, lantas tersenyum pada langit, berterimakasih atas segala nikmat yang telah diturunkan ke yayasan Atap Langit ini. Aku bersyukur, karena doaku akan langsung didengar oleh langit yang berhiaskan bintang-bintang.

Aku bersyukur karena sampai kapanpun, adikku akan terus bersama orangtuanya, tidak menanggung beban pertanyaan seperti Nisa. Aku bersyukur, karena telah dipertemukan dengan Nisa, keluargaku di bawah Atap Langit ini. Kami tak berbeda.


A. Paramudita (Yogyakarta, 2016)

Hitam Di Atas Putih



Kopi hitam di depanku, kurang hitam untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Walaupun kebiasaanku mampir di kafe setiap malam Jumat sedikit mengurangi kepenatan hari-hariku, tetap saja tidak bisa merubah air muka yang terlanjur asam. Angin malam mulai menyapa rambutku dengan lembut. Lagu-lagu sendu yang berasal dari speaker kafe, melengkapi aktingku malam ini.

"Aku, keluar malam ini. Titik!" Aku sudah tak dapat membendung kekecewaanku pada Ray, suamiku yang baru sebulan lalu kunikahi. Sudah sering sekali aku diwanti-wanti untuk tidak memburu nikah muda. 'Kurang pengalaman', kata Ibu. Kami bertemu pertama kali di bangku SMA. Lalu menjadi akrab semenjak dia putus dengan pacar pertamanya, Nia. Awalnya dia hanya sering menanyakan sifat wanita padaku, teman sebangkunya. Nia anak kelas XI C, sedangkan aku dan Ray masuk kelas XI A. Ray kelihatan sekali menaruh hati pada Nia, siapa yang tak tahu jika setiap hari Ray berusaha menggoda Nia.

"Anak SMA," batinku. Malam semakin menampakan kesombongannya. Bintang berpendar  yang menggantung di langit Yogyakarta, purnama yang menunjukkan pesonanya, berhasil membuatku menyunggingkan senyum, kecut. Aku tak pernah jatuh cinta dengan keelokan malam, semenjak aku menyadari malam membawa terbang kenanganku dengan Ray, masuk bersama debu knalpot kendaraan yang meraung-raung di jalanan, ke dalam kafe ini. Kafe ini, satu-satunya tempat pemberhentianku ketika sedang kesal. Duduk di pojok ruang berhawa sendu, membuat kesedihanku semakin menusuk.

"Aku kira kamu pelabuhan yang dapat membawaku berjalan-jalan menikmati malam. Seperti dulu. Tapi apa, kamu sudah merusak segalanya Ray. Kenapa kamu harus berbohong? Kukira kamu tahu aku tak suka dibohongi." Isakku tak dapat kubendung lagi. Tumpah ruah membasahi akta nikah yang sedang kugenggam. Bukan milikku, miliknya dengan orang lain.

Bah, memang salahku terlalu memburu menikahinya. Umurku masih 21 tahun.

Astaga! Betapa belianya aku, seharusnya saat ini aku masih belajar banyak hal untuk persiapan kehidupan pernikahanku. Seharusnya saat ini aku dapat membaca banyak jurnal tentang cara mengasuh anak, seharusnya aku masih berkuliah saat ini. Astaga lihat, betapa anak-anak itu baru pulang dari rumah teman mereka untuk mengerjakan essay yang besok sudah harus terkumpul. Selarut ini? Tuhan, betapa aku merindukan dunia kuliahku.

//handphone berdering//

"Astaga, Nia. Pasti Ray telah menghubunginya."

Aku menggerutu. Betapa sahabat yang dahulunya sedekat nadi dapat menjadi sejauh bintang-bintang yang saat ini menjadi pajangan yang dipilih malam. Aku ingat betul saat aku menjadi nara hubung antar Ray dan Nia. Betapa setiap hari aku ke sana-ke mari hanya untuk mengabarkan keadaan mereka. Terkadang saat Nia ngambek, aku yang disuruh Ray membujuk Nia. Saat Ray hendak ulang tahun, aku yang diajak Nia ke departement store mencari kaos yang cocok untuk Ray. Betapa dunia ini mudah dibolak-balik.

Aku mengenal Nia dari Ray. Semenjak kuamati Ray menyukai gadis berkulit putih bermata sipit, aku mulai menggodanya. Awalnya dia tidak mengakui perasaan yang mulai mekar itu, namun setelah aku berkata jika Nia adalah teman TK-ku, dia mulai tertarik mendengar ceritaku tentang Nia kecil. Semenjak saat itu, Ray sering bertanya padaku tentang kebiasaan Nia, hal yang Nia suka, bahkan sampai menanyakan alamat rumahnya. 'Mana kutahu, tanya saja langsung' jawabku menggodanya. Alhasil, dengan keberanian sebesar cicak yang ikut menjadi saksi, Ray bertanya langsung alamat rumahnya. "Eh, rumahmu di mana sih? Cika lupa masa". Aku hanya cengengesan di balik pintu kelas, memperhatikan dari jauh. "Eh, memangnya Cika pernah tahu ya? Dia kan belum pernah main ke rumahku." Ray jelas kebingungan saat itu, mungkin dia kira aku hanya becanda soal ketidaktahuanku perihal rumahnya, "Astaga, dasar Cika sinting."

Jelas saja aku kabur setelah itu, membawa tawa yang sudah tak dapat kutahan lagi. Malamnya, Ray menelepon,

"Sinting kamu Cik"
"Kurang ajar kamu ngatain anak orang sinting, elu tuh," aku cekikin di balik telepon
"Kukira kamu tahu rumahnya. Kenapa nggak bilang?"
"Kan sudah kubilang nggak tahu hih"

Telepon terputus. Aku tebak dia marah padaku. Biarin, biar tahu rasa. Namun, jauh dibalik kenakalanku, entah mengapa aku merasa iba padanya. Rasanya aku ingin ikut mencari tahu alamat rumah Nia. 

Keesokan harinya, berbekal tekad ingin membantu teman, aku menyusuri alamat rumah yang kudapatkan dari buku tahunan TK Aba. 'Maaf dik, sepertinya adik salah rumah. Saya pemilik rumah ini, namun tak punya anak perempuan seperti yang sudah adik deskripsikan' hanya info itu yang kuperoleh. Ku raih telepon rumah, bimbang hendak mengabari Ray atau tidak, entah mengapa aku deg-degan saat itu. Kuputuskan untuk memberitahunya besok pagi-pagi di sekolah.

"Woy, Ray aku ada info nih"
"Apaan?" sial, dia tertarik
"Rumah Nia, sepertinya dia pindah"
"Maksut?"
"Kemarin aku mencari rumahnya, tapi pemiliknya beda, maaf ya"
"Ah, ya, aku boleh minta tolong satu hal? Aku punya rahasia"

Dia menceritakan kedekatannya dengan Nia, teman TK-ku. Aku hanya cengar-cengir setelah mendengar ceritanya. 'Tolong ya?' dia bersungguh-sungguh rupanya. Lagi-lagi, aku yang kena. "Bayar!" 

Berbekal kertas kusut di tangan, aku kembali ke rumah yang asing bagiku. "Kulo nuwun," aku mengetuk pintu rumah. Belum sampai 1 menit, pintu sudah dibuka lebar. "Cika, ada apa?" Akhirnya aku sampai di pelabuhan yang tepat. Setelah aku bercerita panjang lebar, aku pamit. Kepalaku sudah pusing saat itu, apalagi aku belum ganti seragam. 'Kamu yakin? Kukira Ray becanda. Tak kusangka,' hanya kata-kata itu yang terus terngiang di telingaku.

Alarmku bergetar, pukul 00.00. Pegawai kafe lain di sepanjang jalan Malioboro ini sudah sejak tadi meninggalkan lapaknya, beruntung kafe ini buka 24 jam. Tinggallah aku dan memori dalam kafe ini yang mengikat tubuhku erat.

Malam itu, masih sekitar pukul 8 malam. Aku yang sudah hampir terlelap, terpaksa bangun karena getar handphone yang ada di sebelah kepalaku. Ray menelepon, tidak biasanya dia menelpon malam-malam begini. Biasanya, dia hanya menelpon kalau ada masalah yang sungguh-sungguh membebaninya. Betul saja, kalau bukan Ray teman sebangkuku yang meminta, aku tak akan segan menolak permintaannya untuk datang ke kafe ini. Di sana ia betul-betul bukan seperti Ray yang kukenal. Memandang kosong ke arah jendela, mengenakan headset, memain-mainkan cangkir kopi yang ada di depannya. Aneh.

Aku tak lantas masuk, menghampirinya, lalu menyapanya seperti yang layak orang lain lakukan. Aku hanya bisa menghentikan langkah, lalu memandang wajah kusutnya dari bawah. 'Ah Ray, aku tahu masalahmu bahkan sebelum kau bercerita.' Sebagai teman terdekatnya, aku merasa iba dengannya. Tak ingin dia mengetahui jika aku menitikkan air mata, aku diam saja di depan kafe ini. Aku tak tahu apakah aku sanggup melanjutkan langkah ke dalam. Lebih tepatnya, aku tak tahu apa yang terjadi denganku.

Malam itu kuhabiskan demi menenangkan seseorang yang patah hati karena kekasihnya. Cinta pertama selalu berakhir sendu, untung saja aku tak pernah merasakan cinta yang seperti itu. Dia sudah seperti orang gila, terkadang nangis, lantas tertawa sendiri, lalu memandang kosong. Seperti itu terus tingkahnya saat sedang kunasihati. Air mukanya sangat keruh, sekeruh kopiku saat mengenang memori itu.

"I can't deal with this anymore," kataku. Setelah fajar menyingsing, aku akan meninggalkan kota ini. Aku akan melupakan semua kenangan di kota ini. Aku tak tahan lagi.

Setelah pertemuan di kafe malam itu, keadaan semakin keruh. Ray tak lagi bersemangat dalam menerima pelajaran, ia bahkan tak pernah menyunggingkan senyum. Aku getir melihatnya. Aku tak kuasa melihat temanku yang satu ini bersedih di atas semua kebahagiaan yang sedang kurasa. Lantas kumarahi dia, kumaki, betapa bodohnya dia sebagai lelaki. Rasanya seperti wanita hanya ada satu di dunia ini.

Esoknya lagi, kami tak berbicara hingga seminggu. Datang, menerima pelajaran, pulang. Seperti itu terus, hingga suatu pagi di hari Jumat, tiba-tiba Ray berkata "Thanks Cik, gue sadar sekarang. Gue salah," sorenya dia mentraktir aku di kafe itu. Kami bahagia. Di bawah atap kafe itu, kami menghabiskan waktu berdua, mengalahkan lagu sendu yang sengaja diputar untuk menghanyutkan suasana kafe dengan teriakan tawa riuh kami. Merayakan kemenangannya atas hatinya yang lugu.
Pulangnya, ia mengantarkanku sampai rumah. Lantas aku mengenalkannya pada ibuku yang saat itu membukakan pintu. Ibuku hanya tersenyum melihat anak perempuannya bahagia dengan lelaki yang membawanya pulang. Aku geli dengannya, tak paham mengapa secepat itu Ray dapat melupakan perasaannya. Ada apa?

Tepat sebulan setelah ia putus dengan Nia, Ray bersikap konyol padaku. Tak jarang kulihat ia senyum-senyum sendiri, lalu salah tingkah, semacam itu. Usiaku saat itu 17 tahun, tepat 10 bulan setelah ulang tahunku, Ray menyatakan hal yang sangat tak terduga. Bukan ucapan cinta yang lazim dikatakan anak muda zaman sekarang, bukan juga komitmen yang membuatku tak dapat melangkah jauh. Perkataan yang muncul dari lubuk hati, perasaan yang tulus-lah yang membuatku mati kutu.

"Cik, aku tak tahu apa yang kurasakan, tapi, aku rasa aku kagum padamu. Kamu tidak seperti wanita pada umumnya yang cengeng, kamu bahkan tak bersifat seperti wanita-wanita lain yang sering kauceritakan padaku. Kamu berani memarahiku saat kamu merasa aku salah, kamu membantuku bangkit saat aku tak yakin dapat melanjutkan hidup. Kau tahu, Nia adalah cinta pertamaku. Namun, kukira aku tidak salah jika harus jatuh cinta lagi. Aku tak tahu dengan siapa orang itu, namun aku merasa cocok dengan wanita sepertimu."

Aku berada di Stasiun Tugu saat ini. Handphoneku sudah ku non-aktifkan semenjak keluar dari kafe tadi pagi. Dengan berbekal tekad, aku akan meninggalkan Jogja dan kenangannya. Aku akan merantau ke Solo pagi ini, ke rumah Bang Isan. Dia adalah anak dari teman kantor ayahku yang sudah sangat kukenal. Sebelum masuk kereta, kusempatkan menengok Maliobro yang terlihat dari kejauhan, memutar kembali sepenggal kisah yang ingin kutinggalkan.

"Kamu yakin dengan keputusan ini, Cik?"

"Seratus persen yakin, buk"

"Kuliahmu?"

"..."

"Mau kau hidupi dengan apa anakmu? Atas dasar apa tiba-tiba membuat keputusan mendadak begini. Jangan buat ibukmu ini bingung lah nak, apa kau tak kasihan pada ibukmu ini?"

"Aku sudah berpikir semalaman buk, aku yakin dengan keputusanku. Lagipula, Ray sudah mapan dari hasil usahanya membuka kafe. Bukankah sudah semua buk?"

"Sudah semua apanya, kalian ini ndak cocok. Umur kalian selsih berapa? Satu tahun pun tak sampai. Kuliahmu mau kamu apakan nak? Nikah itu ndak gampang. Sama halnya dengan membuat komitmen. Butuh waktu yang sangat lama hingga kau bisa memutuskan. Tak semudah ini, hanya semalam pula."

"Ibuk tahu Cika nggak mau pacaran buk, Cika sudah tidak sanggup menahan rasa yang bergelanyut di hati. Cika butuh ridha ibuk, sebagai ibuk terbaik Cika"

"Ah sudahlah nak. Coba fikirkan lagi dengan akal sehat. Kau ini sudah di racun Ray"


Maafkan Cika, buk.


A. Paramudita (Yogyakarta, 2016)

Jangan Lupa Membawa Cermin

Ingin jadi seperti apakah saya?

Apakah manusia di balik jubah kehormatan dunia, di bawah gemerlap kebahagiaan memabukkan hingga lalai segalanya. Hidup hanya untuk hari itu saja, harta benda ditukar kebahagiaan yang fana. 
Apakah budak yang selalu mematuhi perintah atasannya, bersenjata harga diri yang dijunjung tinggi hingga mati. Mengorbankan diri untuk sanak keluarga yang berarti 
Apakah manusia toa yang meneriakkan kebebasan-kebebasan hak yang direnggut tangan-tangan tak bertanggung jawab. Idealis, pragmatis menjadi teman sejati yang dibawa mati. 
Apakah sosok sosial pengabdi yang menjadi harapan bagi bapak, ibuk, adek, ponakan. Menghidupkan ruang-ruang kelabu di hati mereka yang lugu. 
Apakah manusia bercadar dan bercelana congkrang yang menjadikan hidup sebagai masa untuk mempersiapkan bekal demi kehidupan akhir. 
Apakah begini-begini saja. Layaknya air yang mengalir, terus mengalir hingga hilir. Mempercayai pada apa yang telah terjadi, menunggu takdir yang akan membawanya entah ke mana. Pasrah terombang-ambing ketidakjelasan atas pilihannya sendiri menjadi air. Terbawa arus.

Kitalah yang memilih akan menjadi seperti apa di masa depan. Lingkungan akan membantu kita menyesuaikan, jika kita betul-betul menginginkannya.

Nikmat yang sudah kita dapatkan hari ini, hidup yang kita jalani setiap hari, pengalaman yang tak berhenti kita gali, seperti inilah yang terbaik untuk diri kita. Apa yang kita dapatkan, jalani, gali, inilah yang Allah sudah tuliskan untuk hidup kita. Bersyukurlah atas apa yang telah Allah berikan. Karena yang baik di mata kita, belum tentu baik di mata-Nya.

Ketika kita lupa akan nikmat Allah, bercerminlah pada anak-anak yang dengan semangatnya bekerja demi bisa makan. Jangan lihat profesinya, lihatlah semangatnya, bercerminlah pada semangat anak itu. Sudahkah semangat kita seperti anak itu?

Lihatlah ketika anak-anak tersebut makan. Dengan cepatnya ia akan menghabiskan hasil jerih payah mereka. Mereka yang seharusnya disayang dalam pelukan hangat keluarga, bukannya disuruh-suruh mengerjakan ini itu. Di saat yang lain diajarkan bermimpi di bawah atap bangunan sekolah, di iming-imingi kehidupan yang layak setelah lulus nanti, mereka yang di jalan bebas bermimpi tanpa batas. Tak ada atap-atap bangunan sekolah yang bisa membentur mimpi mereka. Mereka bebas bermimpi di atas cakrawala jingga yang terhambur di angkasa.

Jangan lupa bersyukur.


[15.58]




Lelaki Adalah Imam Bagi Wanita

Pernahkah kalian menginginkan suatu hal, hingga membuat kalian berusaha mendapatkan sesuatu tersebut, lantas seiring waktu kalian dapat melupakannya. Namun, di suatu saat tak terduga kalian malah diberikan hal tersebut secara cuma-cuma? Saya pernah.

Apa yang aku inginkan tak selamanya baik bagiku, dan apa yang tak kusenangi sebetulnya barakah untukku.

Terkadang aku salah menilai sesuatu; aku terlalu egois. Aku hanya menyukai hal-hal yang menarik minatku, tanpa berpikir panjang.

Hari ini, aku kembali mendapat kesempatan meraih keinginanku. Bukan sesuatu yang berarti, hanya sebuah film islami yang berhasil menarik perhatianku. Berkisah tentang seorang alim yatim piatu yang menyukai fulanah yang berprofesi sebagai pencerita sekaligus inspirator. Lelaki tersebut jatuh cinta dengan wanita tersebut hingga mereka berkomitmen sampai pelaminan. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun telah terlewati. Kehidupan harmonis berhasil mereka raih. Berbagai jenis rangkaian kehidupan telah mereka lewati bersama, fulan yang baik hati dan fulanah sang pencerita. Hingga suatu hari fulan menyelamatkan bayi bernama Akbar Muhammad dari kecelakaan yang menimpa ibunya, Mei. Rupanya Mei mengalami berbagai macam tekanan, hingga beliau memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di atap salah satu rumah sakit yang berada di Yogyakarta. Lagi-lagi fulan menyelamatkan hidup ibu dari anak yang dinamainya. Buah dari keputusan menyelamatkan nyawa dua makhluk Allah, fulan menanggung tanggung jawab baru, poligami.

Fulan memutuskan untuk memperistri Mei setelah ia merasa gagal melakukan upaya penyelamatan nyawa ibu dari anak yang nyaris yatim piatu itu. Tentu fulan harus menanggung beban yang amat berat, apalagi fulanah belum mengetahui hal tersebut. Terang saja, bergetarlah hati fulanah saat mengetahui sang suami mengingkari janjinya untuk tidak berpoligami.

Tak ada wanita yang rela berbagi suami untuk wanita lain.
Tak ada wanita yang benar-benar ikhlas melepaskan suaminya.
Tak ada wanita yang sanggup menahan lara saat mengetahui suaminya berduaan dengan wanita 
yang bukan mahramnya.

Pada hakikatnya, wanita adalah makhluk Allah yang dapat ditimpakan rasa kasih sayang, kesedihan, kemarahan, kekecewaan di saat yang bersamaan. Itulah yang membuat wanita menjadi makhluk yang mulia. Wanita merupakan gambaran nyata dari tulang yang bengkok.

Lelaki adalah imam bagi wanita, di manapun itu.

[12.05]

Sunday, 17 July 2016

Wanita?




Tahu, wanita?
Wanita adalah sosok yang diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri yang apabila dibiarkan akan terus bengkok tetapi apabila kita coba untuk meluruskannya maka tulang tersebut akan patah. Dengan kata lain rusuk dekat ke hati untuk dicintai, dekat dengan tangan agar bisa kita lindungi. 

Bukan dari tulang ubun wanita itu diciptakan, karena akan sangat berbahaya apabila membiarkannya dalam sanjung dan puja yang akan membuat dirinya terlena sehingga akan merasa dirinya paling tinggi derajatnya. 
Tidak juga dari tulang kaki karena hal tersebut merupakan kenistaan yang akan menjadikannya diinjak injak dan diperbudak dan selamanya akan selalu berada dibawah apabila hal tersebut terjadi.

Tidak pula diciptakan dari tulang tangan karena hal tersebut akan membuat wanita menjadi disuruh-suruh dan dipekerjakan terus menerus dengan semena-mena

Silakan dibaca, hati-hati patah.

Purnama Terakhir

Malam itu, kulihatnya begitu memesona. Ya, sungguh memesona.



pict: documents


"Hoi, Dit. Ngapain lu cemberut haha."  
"..."

   Aku hanya bisa mencibir dalam hati. Semestinya dia paham dengan garitan bibirku yang mungkin memang menjemukan. Itu tentang bagaimana aku merespon sesuatu. Ya, cemberut. Hampir di sebagian hidupku kalian akan melihatku dengan cara itu. Sangat tak patut, memang.  

   
---

   Semestinya aku menikmati atmosfer malam, dengan kebahagiaan yang lepas. Sebelum saat ini, aku telah merencanakan dan membayangkan berbagai hal manis yang semestinya terjadi di malam ini, saat bulan berada di penghujung fasenya, purnama.
   Namun apa daya, tak ada lagi yang bisa diharapkan. Semua telah berubah. Lagipula, tak ada kata selamanya dalam hidup. Mengapa pula aku bersedih? 


"..." 
"Nyariin dia nggak ketemu tuh, Saf" 
"Apaan sih..." 
"Santai kan, Dit" 
"Emang lagu Santai, Fen" 
"Nyanyi lagu pantai, nyanyi lagu santai haha"

   Dan begitulah awalnya,


Cinta yang sebenarnya indah sekali Kadang menipu dan bikin sakit hatiTapi lihatlah burung tetap bernyanyiTerlalu indah untuk ditangisi


          "Cari tempat duduk aja yuk"          "..."

10 menit berlalu

          "..."          "Apaan sih sikut-sikut, Sur"

   Lalu kulihat dirinya, di bawah spotlight yang menjatuhi wajahnya bertubi-tubi. Berjalan, beriringan dengan gejolak lagu yang tengah mengombak di antara riak-riak yang seketika terhenti di tenggorokan. Seketika, tak peduli apapun yang kudengar, aku mengunci tatapanku padanya. Hanya padanya. 


          'Dia begitu memesona malam ini.'      


"...""Dit, lihat tuh, pangeranmu hahahaha""Pangeran katamu, Sur? hahahaha""Pangeran dalam mimpi hahahaha"

   Aku tak peduli.       Emosiku mulai meluap. Apalah yang mereka tahu tentang dirinya. Apalah yang mereka rasakan. Ya. Mereka tak merasakan apa yang kurasa. Ku rasa, aku mendapatkan 'the zing' darinya. 

Zinging in the air and I don’t have a care
I’m winging from the zing that we share
Zinging in the rain
Now I’m feeling no pain


   'Untuk apa emosi? Emosi takkan merubah apapun, bahkan justru menjerumuskan lebih dalam.' 
   Aku mulai mengerang. Masa-masa sulit itu terlintas di depannya. 

          "Aku nggak suka dia. Titik."
             Suasana senyap hadir selama sepersekian detik. Seterusnya, gelak tawa terdengar membahana di telingaku. Alih membalas tawa itu, aku makin terapit. 
   Seketika aku teringat waktu. Aku tahu waktu terus berjalan. Waktuku kini tinggal seperempat waktu dari acara ini. Jika aku tak menangkap satupun dari sisa perjalanan waktu ini, matilah aku.     

          "Bentar ya, aku ke belakang bentar"          "..."

   Aku mulai mencarinya. Sampai seseorang memanggil namaku.

          "Dit"          "..."

   Aku mulai mencari pemilik suara cempreng itu. Tidak, aku tahu siapa yang memanggilku. Aku hanya mencari wujudnya di antara segerombolan orang yang selalu berlalu-lalang di dalam bayangan malam.
   Lalu aku menemukannya. Tak berkata apapun setelah itu, hanya menunjuk-nunjuk bayangan di belakangku. Tepat di belakangku. 
   Aku tak tahu apa yang ditunjuk. Aku tak melihat apapun selain bayangan purnama dan kegelapan malam yang terus mengikutiku. Aku putuskan untuk menghampirinya, dan saat aku hendak melangkahkan kaki ke arahnya, aku baru tersadar. 'Itu Dia'.
   Dia, bukan dia. Dia dari dia, mungkin. Aku tadi tak melihatnya, tubuhnya begitu mungil untuk dilihat. Aku hanya memperhatikan apa yang ia kenakan. Aku hanya bisa membisu.
   'Pakaiannya, sama seperti apa yang dia kenakan.'
   Aku berbalik, ke tempat awalku tadi. Menghentikan apa yang baru akan ku mulai. Aku menyerah.
"Aku baru saja melihat Dia-nya" 
"Lalu bagaimana, Dit?" 
"Entah. Mungkin memang mereka masih sama. Lagipula aku bukan siapa-siapa. Untuk apa aku terus menginginkan orang yang tak menginginkanku." 
"Katamu ini 'For The Last Day Forever'? Kamu nyerah gitu aja?" 
"Untuk apa aku menggantungkan diriku untuknya. Mau kuberi apapun dia, kalau pilihannya tetaplah Dia, aku bisa apa."  
"..."



Mungkin betul inilah akhirnya. Sungguh ironi.


A. Paramudita (Yogyakarta, 2015)

A Child Called 'It'



“It is important for people to know that no matter what lies in their past, they can overcome the dark side and press on the a brighter world.” ― Dave PelzerA Child Called "It"

Saat ini, teknologi yang dikembangkan di era globalisasi tak terelakkan. Berbagai macam produk modern diperbarui. Namun di balik itu semua, di sudut hingar bingar kehidupan kota, ada jeritan anak yang tak terdengar telinga kita. Jeritan lirik anak yang merindukan kasih sayang, kepedulian orang tua terhadap dirinya. Terkadang saking padatnya pekerjaan orang tua, hingga melupakan kewajibannya untuk merealisasikan hak-hak anak. Tanpa disadari orang tua, terkadang anak menjadi korban pelampiasan kekesalan orang tua atas pekerjaannya. Tak dapat dipungkiri, sudah banyak terjadi kasus pelanggaran hak-hak anak di seluruh dunia. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pelecehan anak dan penganiayaan anak adalah "segala bentuk perlakuan fisik dan / atau emosional, pelecehan seksual, penelantaran atau perlakuan lalai atau komersial atau lainnya eksploitasi, mengakibatkan kerugian aktual atau potensial untuk kesehatan anak , kelangsungan hidup, pengembangan atau martabat dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan."  

Pelecehan anak yang terjadi saat ini banyak macamnya. Kekerasan fisik, pelecehan seksual, pelecehan psikologis, dan masih banyak lagi. Masih terngingat di telinga saya beberapa kasus pelecehan seksual yang tersorot publik baru-baru ini. Namun yang tersoroti itu barulah sebagian kecil dari lubang besar yang berhasil membuat hati teriris. 

A Child Called 'It' merupakan sebuah buku karangan Dave Pelzer yang diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama. Buku ini membuat saya memahami betul arti kehidupan. Buku inilah yang membuat saya tergugah, membuat saya ingin terus menggali masalah-masalah yang kerap menghantui sanubari anak-anak.

Tentu, Dave Pelzer merupakan orang yang sangat tegar, sangat berambisi dalam bertahan hidup. Walaupun saya baru membaca buku pertamanya, namun itu sudah sangat membuat hati saya bergetar, saya seperti bisa mengetahui apa yang dirasakan Dave Pelzer kecil saat itu.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca, terlebih karena ini adalah sebuah true story, kita bisa benar-benar mengerti apa yang dirasakan Dave Pelzer kecil saat itu, karena adegan yang ditulis bukanlah rekayasa.

Dan saat saya membawa buku itu ke rumah, orang yang pertama kali saya perlihatkan dan saya ajak untuk membacanya adalah ibu saya, mengapa? Karena saya ingin orang tua saya mengetahui perasaan anak kecil korban child abuse (penyiksaan anak), anak yang masih polos, suci, tetapi sudah harus menahan sakit di perutnya akibat sebuah tusukan pisau, yang harus menahan lapar karena tidak diberi makan, yang lagi-lagi harus menahan sakit perut karena mau tidak mau  memakan makanan dari sisa-sisa sereal kakak-kakaknya yang sudah di buang di tempat sampah karena tidak diberi makan, harus memakai seragam sekolah untuk pakaian sehari-harinya walaupun seragam itu sudah sobek dan kotor, yang harus menahan bau karena disuruh menempelkan wajah di popok kotor adiknya, mau tak mau harus mencuri makanan di kantin sekolahnya, diledek teman-temannya.

Masih banyak peristiwa yang dialami Dave Pelzer. Ketakutan, rasa kekalahan, kesendirian, kesakitan, adalah rasa-rasa yang dirasakan oleh Dave Pelzer semasa itu, sampai ia diselamatkan, sampai ia terbebas dari ketakutannya. 

(A. Paramudita, 2013)








The Inventors

Johannes Guttenberg 

(An Inventor of the Printing Press in 1440)


    "It is a press, certainly, but a press from which shall flow in inexhaustible streams... Through it, God will spread His Word.

    A spring of truth shall flow from it: Like a new star it shall scatter the darkness of ignorance, and cause a light heretofore unknown to shine amongst men."      











    Leonardo da Vinci

    (An Italian painter and a genius in many realms os science)



        "I have been impressed with the urgency of doing. 

         Knowing is not enough; we must apply.

         Being willing is not enough; we must do."  





    Leonardo Da Vinci is best known for two paintings, the Mona Lisa and The Last Supper

    The Last Supper
    The Mona Lisa