Tuesday, 21 February 2017



Aku menahan napas selama beberapa detik.

Semesta ini memang bukanlah alat pengabul segala impian, angan, serta cita-cita. Siapa yang tak senang jika pengharapannya dapat menjadi kenyataan? Namun, lagi-lagi aku berpikir.

Sudah saatnya kah?

Apakah kamu benar-benar serius?

Jadi, apa maksut perkataanmu barusan?

Bahkan, aku tidak tahu bagaimana sifat aslimu saat itu. Bagaimana tingkahmu di kelas, dengan siapa saja kamu bergaul, dengan siapa kau dekat. Terlalu banyak pertanyaan yang terus berputar hingga aku tidak mempercayai semua omonganmu saat itu.

Jadi, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah kembali membaca chatmu hingga berulang-ulang, terhenti di satu kalimat itu, mengambil napas sejenak. Lalu kembali membaca.

Aku hanya ingin dan butuh keyakinan diri bahwa saat itu kamu hanya bergurau. 
Dan penolakanku adalah tindakan yang sangat tepat
Walaupun ku akui, kamulah orangnya.

Lagipula, tak ada yang mampu mengembalikan waktu bukan?
Hehe



Rumah, mengingat masa itu.

Tuesday, 17 January 2017

I was going to run with you on the count of three if you were in danger.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan


Aku, jiwa-jiwa yang rapuh. Jiwaku mudah terjatuh, kemudian pecah berkeping-keping. 

-Itu adalah gambaran setelah aku mengenalmu


Mengenalmu tak perlu waktu. Mengenalmu, cukup dengan duduk kedinginan berjam-jam mendengarkan. Mengenalmu, cukup menjadi sebal, lalu kamu akan meminta maaf dengan sendirinya. Aku tak pernah berharap kau datang lalu memorak-porandakan semestaku. Aku tak pernah berharap kau mendatangiku, lalu menjadikannya rumah singgah.

Karena aku tahu, semua itu berlaku sementara.

Sampai waktunya nanti, kau kembali pada hidup yang serba berkecukupan di mana seharusnya kau berada; langit. Dan aku tetap akan menjadi rumah bagi siapapun yang hendak singgah; bumi.

Kalau boleh berlebihan, aku dan kamu merupakan perwujudan dari Yin dan Yang. Kita sangat bertolak belakang, kau tahu. Kau dengan lagakmu yang modernitas karena memang dilahirkan di jantung negara yang penuh dengan wajah-wajah bertopeng, tikus berdasi, hartawan, seniman, orang pinggiran yang berakhir di panggung sandiwara, bahkan gedung pencakar ada di mana-mana. Sedangkan aku... ya aku, sudah dari lahir menjadi tuan rumahmu yang biasa-biasa saja.

Kotaku yang biasa-biasa saja menuntunku pada kesederhanaan, bukan keserakahan. Kau mencari kopi di sini, bisa kau jual 2x lipat di Maldiven van Java sana. Sejujurnya, aku belum pernah mencoba minuman dengan merk dagang 'dolar bintang', tidak seperti rekan-rekanmu yang menjadikan minuman tersebut seperti halnya air putih.

Kau pun tak perlu merasa malu untuk naik kereta menuju kotaku. Kota dengan aroma khas bunga tujuh rupa serta tabuhan gamelan akan menyambutmu bak raja yang turun dari singgasananya. Pun aku. Aku akan dengan senang hati menyambutmu, untuk kembali ke rumah kakek-nenekmu.

Indomaret, malam hari...

Jauh-jauh hari ketika tangisku meledak, aku ingin mengikhlaskan segala rasa yang berkecamuk dan mengikat. Pun ingin melupakan segala hal tentang aku-dan-kamu. Jadi, aku putuskan untuk membencimu dan juga membuatmu benci padaku, dengan cara yang keliru. Kuingat, aku menangis sejadi-jadinya ketika rindu itu datang dan tak berbalas. Namun kini, ketika semua amarah itu sudah reda, aku menjadi menyesal atas semua kata-kataku yang sangat menusuk. Kuakui, emosi telah menguasaiku waktu itu. Aku salah.

Lalu aku tahu besok kau akan datang. Aku sudah menyiapkan segala kebutuhan yang mungkin kau inginkan. Biarlah sesekali aku belanjakan uang(yang sebenarnya untuk kebutuhan lain)ku untuk melukis senyum di wajahmu.

Karena kalau tidak salah ingat, percakapan terakhir kita begitu panas, dan juga kaku. Lalu aku mulai khawatir ketika segala ucapan kasarmu keluar. Kau keras, dan idealis.

Stasiun, sekitar pukul tujuh pagi...

Palang kereta yang manghadang jalan di depanku, merupakan tanda bahwa kau sudah sampai Jogja. Atau setidaknya mendekati stasiun yang ku tuju. Dan kalau boleh, sebetulnya waktu itu kau hanya beberapa meter di depanku, namun kita sama-sama tak tahu. Bersama asap kendaraan yang lain, aku menunggu. Memang terkadang menunggu itu menyebalkan, apalagi menunggu kepastian.

Di tanganku, aku membawa bubur ayam untukmu. Aku yakin kau menghabiskan delapan jam perjalananmu dalam kereta tanpa makanan berat. Kuyakin kau belum makan, rasa yakin itu mengalahkan ketakutanku akan sikapmu nanti.

Ruang tunggu stasiun, sekitar pukul 7.15...

Aku duduk, lagi-lagi menunggu. Aku tak tahu apa pakaianmu, bagaimana rupamu, dan sedang di mana kamu waktu itu. Terakhir kali kita berkomunikasi, yaitu kemarin pukul 8 malam, sudah lama sekali. Bahkan saat ini, aku tidak membawa hape dan jam. Lengkaplah aku.

"Mas, maaf, kalau boleh tahu saat ini pukul berapa?"
"Oh, terimakasih mas. Kereta Jakarta-Jogja sudah sampai belum ya?"
"Mau jemput temen hehe."
"Oh. Kurang tahu kalau nomornya, malah ndak tanya hehe."
"Lupa bawa hape."
"Makasih banyak mas."

Lalu aku mulai mengamati sekitar. Mataku terkunci pada laki-laki bertopi yang duduk tak jauh dari kursiku. Ku lihat dari samping, wajahnya menyerupai wajahmu. Lelaki berwajah tirus yang sangat berbeda degan kakak dan adiknya. Lalu wajah itu, tiba-tiba bergerak, menoleh ke arahku. Mata kita sama-sama bertemu sekian menit, cukup lama. Kamu dengan raut muka yang datar menatapku tak wajar.

Aku tak yakin itu kamu.

Lelaki itu langsung berdiri, menuju parkiran. Aku ikut berdiri beberapa detik setelahnya, baru sadar akan sesuatu. Bahkan aku lupa mengucapkan perpisahan pada orang baik di sebelahku. Aku hanya menoleh pada teman baikku yang rupanya juga memperhatikanku.

"Kok ndak ngabari?"
"Hapeku kan wifi only."

Hanya itu percakapan pertama kita. Tanpa kabar, tanpa senyum. Dengan langkah yang sedikit terkesan tergesa-gesa.

"Parkir mane?"

Aku berikan kunci motorku. Sedikit ragu, aku duduk di belakangnya. Itu pertama kali kami berboncengan, kedua kali kami pergi berdua.

"Baru bangun ye."
"Bangun jam berape?"

Pertanyaan demi pertanyaan mulai keluar selama perjalanan yang sedikit tegang.

Indomaret point, sekitar pukul setengah delapan...

Aku harus ingat, bahwa menyukaimu merupakan akibat dari tingkahmu yang menyebalkan. Aku menyukaimu, karena wujud perhatianmu padaku, yang kau lakukan secara diam-diam.

Sudah kubilang padamu aku membawa bubur. Aku duduk, namun kamu malah membeli chiki dan minuman. Aku mulai menduga kamu akan menolak pemberianku.

"Makan."
"Ndak makan ini aja dah kenyang."
"Beneran?"
"Iye bawel."
"..."
"Kalo ngantuk bobo aja."
"Ndak lah."
"Mau kagak?"
"Ndak, makasih."

Apakah kau tahu aku sedikit sedih, tak tahukah jika aku sudah menyiapkan bubur untukmu di pagi hari, dan menyiapkan kotak makannya, dan menaruh sedikit harap padanya?

"Kalo ngantuk pulang aje, nanti sampe jam 12 keknya."
"Kagak."

Lalu kami mulai mengobrol. Sedikit cair.

Gelanggang, pukul 8 tepat...

Sebelumnya aku tak paham apa tujuanmu kembali ke Jogja di saat liburan begini. Kedatanganmu begitu mendadak, dan terkesan terlalu cepat. Terlalu aneh untuk tidak ditanyakan. Dan ketika aku mengetahui jawabanmu, aku mulai paham akan kesibukanmu dan prioritasmu padanya.

Kuakui, itulah sifat yang membuat kita sejalan. Sifat itulah yang membuatmu masih bertahan, dan aku menjadi menghargaimu. Hingga akhirnya, membuat bahan obrolan kita menjadi tidak terbatas.

Cafetaria, sekitar pukul setengah 12...

"Mau makan mane?"
"Sambil jalan aja mikirnya."
"Mampir asrama bentar ye, mau ambil barang."

Kau, manusia setengah kambing yang menyebalkan, tapi kuakui juga kurindukan. Aku tahu, sifat burukmu merupakan akibat dari pergaulan di kota tempat tinggalmu, Jakarta. Namun setelah kugali lebih dalam, kau wajar dan kau masih-lebih-baik di bandingkan dengan rekan-rekanmu yang lain. Sikapmu yang baik dan sangat menghargai orang, itu yang kusuka.

Asrama Putra UGM, sekitar pukul 12 lebih... 

"Tunggu luar aje ye, satpam rada bangsat dah tua padahal. Agak susah."
"Aku tuh jarang di asrama kok."
"Makan mane nih."

Ada temanku yang bingung bagaimana-aku-bisa -menyukai-orang-kasar-sepertimu. Bagaimana bisa aku jatuh hati pada semua sifat burukmu yang mengalahkan sifat baikmu. Aku selalu menjawabnya dalam hati, bahwa kamu tidak seburuk yang orang pikir. Orang-orang itu hanya melihatmu dari luar, dan memang sayangnya luaranmu memang buruk. Namun hatimu sungguh baik. Mereka hanya kurang dalam mengenalmu.

Indomaret point, sebelum kepergianmu...

Aku membencimu ketika kamu mulai serius, walaupun aku butuh keseriusanmu. Namun aku membencinya, apalagi ketika mulai membahas masa lalu. Hal yang tak penting untuk diperbincangkan.

Namun aku senang, akhirnya suasana sudah benar-benar cair, karena dengan begitu aku sudah bisa melepaskanmu secara ikhlas.

Stasiun, 14.05...

"Makasih Ica."


Yogyakarta, 17 Januari 2017





---

Terimakasih kembali untukmu, teman. Terimakasih telah mempercayaiku menjadi teman yang kau butuhkan. Terimakasih telah memaafkan kesalahanku ketika emosi meruntuhkan semua sisi baikku. Terimakasih karena selama satu semester ini, kamu yang mewarnai kehidupan kuliahku. Terimakasih kamu berhasil membuatku senyum-senyum sendiri. Terimakasih telah mengajariku banyak hal, banyak sekali. Terimakasih telah menjadi guru yang baik. 
Aku akan kembali pada kehidupanku yang stagnan. Aku akan kembali tenggelam dalam kehidupanku yang penuh repetisi membosankan. 

Monday, 26 December 2016


Kurang tuluskah?


Tak tahukah, jika semua yang aku lakukan merupakan bentuk dari ketulusan? Tak sadarkah jika selama ini aku terus meluangkan? Aku luangkan waktu luangku, bahkan waktu sempitku hanya untuk mereka yang telah kupercaya. Kenapa?

Karena aku sangat menghargai kejujuran. Dan yang aku harapkan hanya dua hal itu:
kejujuran dan ketulusan. Tidak lebih.

Lalu akan kubangun sebuah bangunan kepercayaan untukmu, saat kau singgah, kawan.

Namun, betapa kecewa saat kepercayaan yang selama ini telah menjadi pondasi yang kokoh hancur berkeping-keping.

Roboh. Ya, bangunan kepercayaan itu akan roboh.

Pertanyaannya adalah: Kenapa?

Kurang tuluskah aku?


A. Paramudita (Yogyakarta, 2016)

Tuesday, 6 December 2016

Andaikan hal itu nyata
Aku anak perempuanmu, yang sangat mudah berlinang air matanya

Andaikan bubur dapat dijadikan nasi
Aku tidak akan seberandal ini

Maaf, aku berjalan sendiri
Namun aku akan selalu belajar memahami setiap kejadian






A. Paramudita (Yogyakarta, 2016)

Friday, 18 November 2016

Ada kata yang belum sempat terucap, sebelum pergi

Ada harap yang terangkat, lalu jatuh lagi

Ada mimpi yang tertinggal, namun tak kembali



Karena abu-abu itu, kamu. 




A. Paramudita (Yogyakarta, 2016)

Tuesday, 19 July 2016

Di Bawah Atap langit




"Nisa, ayo masuk nak, sudah malam"

Namanya Nisa. Usianya setara dengan adikku, bahkan hari ulang tahun mereka sama. Bedanya, Nisa tak pernah diberi kesempatan melihat rupa keluarganya barang sedetik pun. Sudah menjadi kebiasaanku untuk menemani Nisa hingga terlelap. 'Kak Isa, Nisa titip salam untuk ayah dan bunda. Bisa?' Betapa lugunya dia. Nisa gadis cantik dengan raut sendu itu, adalah kebanggan rumah kami, rumah Atap Langit. Nisa senang mengulurkan tangan kecilnya untuk membantu kami.

Rumah Atap Langit ini sudah lama sekali semenjak didirikan pertama kali, kata Ibuk  malah sudah ada sejak zaman Belanda. 'Who knows'. Rumah ini tidak akan berdiri tanpa Bunda. Saat itu, Bunda sakit keras. Tanah, sawah telah digadaikan untuk biaya pengobatan Bunda di rumah sakit. Walau begitu, tetap saja Bunda terkulai lemah. Tak ada yang tahu penyakit yang diderita Bunda, Bunda ingin merahasiakannya. Anak-anak kandung Bunda yang telah sampai di perantauan, segera memesan tiket pesawat tercepat ke Yogyakarta. Anak-anak itu membanting tulang untuk membiayai pengobatan Bunda yang masih sangat jauh dari kata cukup. Berbulan-bulan tubuh Bunda dipasangi selang infus, seakan hidup mati bunda ditentukan oleh selang yang menggerogoti tubuh wanita muda itu. Anak-anak kandung Bunda, termasuk Ibuk, telah mengusahakan berbagai cara agar Bunda tetap hidup. Saat bulan Ramadhan tiba, tak jarang Ibuk dan saudara-saudaranya berjubel di pinggir alun-alun kota, menjajakan berbagai jenis makanan untuk berbuka. Karena rumah Bunda telah menjadi korban mahalnya biaya rumah sakit, mereka harus mendirikan tenda darurat di alun-alun untuk memasak. Namun malah karena masak di tempat, aroma harum masakanlah yang berhasil menarik minat pembeli. Mereka mencium bau harum masakan, lantas siapa yang tahan dengan bau sedap?

Setelah semua habis, anak-anak kandung Bunda kembali ke rumah sakit. Rumah sakit inilah satu-satunya atap yang dimiliki Bunda. Walau tak sepenuhnya milik Bunda, namun keluarga Bunda bersyukur masih dapat tidur dalam atap yang hangat. Berbulan-bulan semenjak bunda diboyong ke rumah sakit, kondisi Bunda sama saja, tak sadarkan diri. Anak-anak kandung bunda nyaris pasrah akan keadaan Bunda yang tak kunjung membaik, saat keajaiban itu menghampiri. Bunda sadar.

Setelah keadaan kunjung membaik, bunda pindah ke salah satu rumah anaknya yang ada di Solo. Di sana, bunda mulai bercerita. "Bunda melihat banyak anak kecil di jalanan, mereka tak punya atap untuk berlindung dari hujan, tak ada rumah yang menghangatkan badan mereka dari angin malam. Hanya langit, langitlah yang menghidupi mereka. Mereka hidup, beratapkan langit, membawa sejuta kebahagiaan yang hendak mereka tawarkan pada orang-orang. Hanya saja terkadang orang tersebut tidak sadar akan kehadiran anak-anak itu. Tak jarang mereka di maki, tak jarang mereka berlari dari kejaran petugas-petugas yang buta harta, tak jarang mereka meratapi nasib mereka sebagai anak jalanan."

Setelah bercerita, Bunda mengakhiri 'sejak itulah Bunda berjanji akan berusaha menghidupi anak-anak tersebut'. Maka berdirilah yayasan ini, yayasan Atap Langit. Ibuklah yang mengurusi yayasan ini, saat menemukanku.

Aku memang bukan anak jalanan yang harus menengadahkan tangan untuk bisa makan. Aku punya ayah, ibu, dan adik perempuan yang melengkapi hari-hariku sebagai pelajar di salah satu SMA di Yogyakarta. Keluarga kami tak pernah ada yang sakit sampai harus opname di rumah sakit. Hanya aku satu-satunya anak yang paling nakal di rumah. Umurku masih 7 tahun, saat sebuah motor ninja berhasil membuatku terlempar dari jalanan. Aku yang langsung di bawa ke rumah sakit, disambut ayahku dengan mata yang sudah sangat merah. Aku tahu ayahku menangis, aku tahu.  Setelah itu aku berjanji tak akan main-main lagi dengan nyawa.

Namun rupanya, takdir berkata lain. Saat itu aku masih berada di rumah teman, mengerjakan laporan praktikum yang sudah harus terkumpul esoknya. Matahari hampir tak nampak batangnya, suara adzan berkumandang di antara deruan kendaraan yang melaju  di sepanjang jalan Kota Baru. Lampu-lampu jalan yang baru saja dihidupkan, menghidupkan suasana menyambut malam yang sendu. Keluargaku, menggunakan mobil lamanya berencana mengunjungi kerabat kami yang opname di rumah sakit. Berita dadakan, membuat keluargaku segera menginjak gas pol di jalanan yang licin akibat hujan. 'Duarr,' tabrakan tak terelakkan. Bukan, bukan keluargaku yang mengalami tabrakan. Dua buah motor saling bertabrakan di jalanan yang licin itu. Salah satunya terlempar ke arah mobil ayahku yang berada tak jauh di belakangnya. Ayahku mencoba menghindar, namun gagal. Mobilku menabrak pembatas jalan. Deru sirine ambulan mengagetkanku. Aku yang sedang dalam perjalanan pulang, kaget melihat mobilku yang ringsek ditarik mobil polisi. Aku bertanya ini-itu pada polisi yang berusaha menetralkan jalan. Tangisku disambut hujan malam itu. Kami sama-sama menangis, hingga sulit membedakan antara tangisku dan tangis cakrawala yang iba melihat para manusianya yang tak pernah merasa cukup. Bersyukurlah.

Ayah, ibu, dan adik perempuanku sudah dibalut kain putih saat aku terjatuh di depan kamar jenazah. Aku merasa, hidupku sudah usai. Aku tak punya apa-apa lagi. Takdir berkata lain. Selalu terngiang dalam benak, saat ayahku selalu mewanti-wanti untuk berhati-hati saat berkendara, ibuku yang tak lupa mendoakan 'hati-hati di jalan, nak', adikku yang melambaikan tangan ke arahku dengan senyum terlebar yang pernah ada. Mereka selalu tersenyum, apapun yang terjadi. Itu yang membuatku tak sanggup untuk membuka kain putih yang menghangatkan tubuh mereka. Aku tahu, bahkan di saat-saat terakhir seperti ini, senyum selalu tertinggal di wajah mereka.

Seiring waktu, kesedihanku sirna. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Dengan mengabdi di yayasan ini, aku kira dapat melupakan semua kesedihanku. Apalagi malam itu, saat hendak membeli satai di depan yayasan, tanpa sengaja aku melihat bayi perempuan di taruh di pintu samping yayasan. Lantas kuberi nama Nisa, seperti nama adikku, seperti namaku.

Aku yang membesarkan Nisa. Ketika meihat ke dalam matanya, seakan aku melihat senyum adikku saat melepaskankanku ke sekolah. Air mata yang menggantung di ujung mataku, terjatuh.

"Kak Isa, Nisa titip salam untuk ayah dan bunda. Bisa?"
"Ah, tentu saja. Akan kuucapkan padanya saat kau tidur nanti."
"Terimakasih kak, sudah membesarkan Nisa dengan kasih sayang. Terimakasih telah menyampaikan salam. Sayang kakak"
"..."

Tentu, aku selalu menyampaikan semua salam anak-anak panti, termasuk salamku untuk semua keluargaku. Aku menaiki atap, membawa buku harian serta teh hangat, lantas tersenyum pada langit, berterimakasih atas segala nikmat yang telah diturunkan ke yayasan Atap Langit ini. Aku bersyukur, karena doaku akan langsung didengar oleh langit yang berhiaskan bintang-bintang.

Aku bersyukur karena sampai kapanpun, adikku akan terus bersama orangtuanya, tidak menanggung beban pertanyaan seperti Nisa. Aku bersyukur, karena telah dipertemukan dengan Nisa, keluargaku di bawah Atap Langit ini. Kami tak berbeda.


A. Paramudita (Yogyakarta, 2016)

Hitam Di Atas Putih



Kopi hitam di depanku, kurang hitam untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Walaupun kebiasaanku mampir di kafe setiap malam Jumat sedikit mengurangi kepenatan hari-hariku, tetap saja tidak bisa merubah air muka yang terlanjur asam. Angin malam mulai menyapa rambutku dengan lembut. Lagu-lagu sendu yang berasal dari speaker kafe, melengkapi aktingku malam ini.

"Aku, keluar malam ini. Titik!" Aku sudah tak dapat membendung kekecewaanku pada Ray, suamiku yang baru sebulan lalu kunikahi. Sudah sering sekali aku diwanti-wanti untuk tidak memburu nikah muda. 'Kurang pengalaman', kata Ibu. Kami bertemu pertama kali di bangku SMA. Lalu menjadi akrab semenjak dia putus dengan pacar pertamanya, Nia. Awalnya dia hanya sering menanyakan sifat wanita padaku, teman sebangkunya. Nia anak kelas XI C, sedangkan aku dan Ray masuk kelas XI A. Ray kelihatan sekali menaruh hati pada Nia, siapa yang tak tahu jika setiap hari Ray berusaha menggoda Nia.

"Anak SMA," batinku. Malam semakin menampakan kesombongannya. Bintang berpendar  yang menggantung di langit Yogyakarta, purnama yang menunjukkan pesonanya, berhasil membuatku menyunggingkan senyum, kecut. Aku tak pernah jatuh cinta dengan keelokan malam, semenjak aku menyadari malam membawa terbang kenanganku dengan Ray, masuk bersama debu knalpot kendaraan yang meraung-raung di jalanan, ke dalam kafe ini. Kafe ini, satu-satunya tempat pemberhentianku ketika sedang kesal. Duduk di pojok ruang berhawa sendu, membuat kesedihanku semakin menusuk.

"Aku kira kamu pelabuhan yang dapat membawaku berjalan-jalan menikmati malam. Seperti dulu. Tapi apa, kamu sudah merusak segalanya Ray. Kenapa kamu harus berbohong? Kukira kamu tahu aku tak suka dibohongi." Isakku tak dapat kubendung lagi. Tumpah ruah membasahi akta nikah yang sedang kugenggam. Bukan milikku, miliknya dengan orang lain.

Bah, memang salahku terlalu memburu menikahinya. Umurku masih 21 tahun.

Astaga! Betapa belianya aku, seharusnya saat ini aku masih belajar banyak hal untuk persiapan kehidupan pernikahanku. Seharusnya saat ini aku dapat membaca banyak jurnal tentang cara mengasuh anak, seharusnya aku masih berkuliah saat ini. Astaga lihat, betapa anak-anak itu baru pulang dari rumah teman mereka untuk mengerjakan essay yang besok sudah harus terkumpul. Selarut ini? Tuhan, betapa aku merindukan dunia kuliahku.

//handphone berdering//

"Astaga, Nia. Pasti Ray telah menghubunginya."

Aku menggerutu. Betapa sahabat yang dahulunya sedekat nadi dapat menjadi sejauh bintang-bintang yang saat ini menjadi pajangan yang dipilih malam. Aku ingat betul saat aku menjadi nara hubung antar Ray dan Nia. Betapa setiap hari aku ke sana-ke mari hanya untuk mengabarkan keadaan mereka. Terkadang saat Nia ngambek, aku yang disuruh Ray membujuk Nia. Saat Ray hendak ulang tahun, aku yang diajak Nia ke departement store mencari kaos yang cocok untuk Ray. Betapa dunia ini mudah dibolak-balik.

Aku mengenal Nia dari Ray. Semenjak kuamati Ray menyukai gadis berkulit putih bermata sipit, aku mulai menggodanya. Awalnya dia tidak mengakui perasaan yang mulai mekar itu, namun setelah aku berkata jika Nia adalah teman TK-ku, dia mulai tertarik mendengar ceritaku tentang Nia kecil. Semenjak saat itu, Ray sering bertanya padaku tentang kebiasaan Nia, hal yang Nia suka, bahkan sampai menanyakan alamat rumahnya. 'Mana kutahu, tanya saja langsung' jawabku menggodanya. Alhasil, dengan keberanian sebesar cicak yang ikut menjadi saksi, Ray bertanya langsung alamat rumahnya. "Eh, rumahmu di mana sih? Cika lupa masa". Aku hanya cengengesan di balik pintu kelas, memperhatikan dari jauh. "Eh, memangnya Cika pernah tahu ya? Dia kan belum pernah main ke rumahku." Ray jelas kebingungan saat itu, mungkin dia kira aku hanya becanda soal ketidaktahuanku perihal rumahnya, "Astaga, dasar Cika sinting."

Jelas saja aku kabur setelah itu, membawa tawa yang sudah tak dapat kutahan lagi. Malamnya, Ray menelepon,

"Sinting kamu Cik"
"Kurang ajar kamu ngatain anak orang sinting, elu tuh," aku cekikin di balik telepon
"Kukira kamu tahu rumahnya. Kenapa nggak bilang?"
"Kan sudah kubilang nggak tahu hih"

Telepon terputus. Aku tebak dia marah padaku. Biarin, biar tahu rasa. Namun, jauh dibalik kenakalanku, entah mengapa aku merasa iba padanya. Rasanya aku ingin ikut mencari tahu alamat rumah Nia. 

Keesokan harinya, berbekal tekad ingin membantu teman, aku menyusuri alamat rumah yang kudapatkan dari buku tahunan TK Aba. 'Maaf dik, sepertinya adik salah rumah. Saya pemilik rumah ini, namun tak punya anak perempuan seperti yang sudah adik deskripsikan' hanya info itu yang kuperoleh. Ku raih telepon rumah, bimbang hendak mengabari Ray atau tidak, entah mengapa aku deg-degan saat itu. Kuputuskan untuk memberitahunya besok pagi-pagi di sekolah.

"Woy, Ray aku ada info nih"
"Apaan?" sial, dia tertarik
"Rumah Nia, sepertinya dia pindah"
"Maksut?"
"Kemarin aku mencari rumahnya, tapi pemiliknya beda, maaf ya"
"Ah, ya, aku boleh minta tolong satu hal? Aku punya rahasia"

Dia menceritakan kedekatannya dengan Nia, teman TK-ku. Aku hanya cengar-cengir setelah mendengar ceritanya. 'Tolong ya?' dia bersungguh-sungguh rupanya. Lagi-lagi, aku yang kena. "Bayar!" 

Berbekal kertas kusut di tangan, aku kembali ke rumah yang asing bagiku. "Kulo nuwun," aku mengetuk pintu rumah. Belum sampai 1 menit, pintu sudah dibuka lebar. "Cika, ada apa?" Akhirnya aku sampai di pelabuhan yang tepat. Setelah aku bercerita panjang lebar, aku pamit. Kepalaku sudah pusing saat itu, apalagi aku belum ganti seragam. 'Kamu yakin? Kukira Ray becanda. Tak kusangka,' hanya kata-kata itu yang terus terngiang di telingaku.

Alarmku bergetar, pukul 00.00. Pegawai kafe lain di sepanjang jalan Malioboro ini sudah sejak tadi meninggalkan lapaknya, beruntung kafe ini buka 24 jam. Tinggallah aku dan memori dalam kafe ini yang mengikat tubuhku erat.

Malam itu, masih sekitar pukul 8 malam. Aku yang sudah hampir terlelap, terpaksa bangun karena getar handphone yang ada di sebelah kepalaku. Ray menelepon, tidak biasanya dia menelpon malam-malam begini. Biasanya, dia hanya menelpon kalau ada masalah yang sungguh-sungguh membebaninya. Betul saja, kalau bukan Ray teman sebangkuku yang meminta, aku tak akan segan menolak permintaannya untuk datang ke kafe ini. Di sana ia betul-betul bukan seperti Ray yang kukenal. Memandang kosong ke arah jendela, mengenakan headset, memain-mainkan cangkir kopi yang ada di depannya. Aneh.

Aku tak lantas masuk, menghampirinya, lalu menyapanya seperti yang layak orang lain lakukan. Aku hanya bisa menghentikan langkah, lalu memandang wajah kusutnya dari bawah. 'Ah Ray, aku tahu masalahmu bahkan sebelum kau bercerita.' Sebagai teman terdekatnya, aku merasa iba dengannya. Tak ingin dia mengetahui jika aku menitikkan air mata, aku diam saja di depan kafe ini. Aku tak tahu apakah aku sanggup melanjutkan langkah ke dalam. Lebih tepatnya, aku tak tahu apa yang terjadi denganku.

Malam itu kuhabiskan demi menenangkan seseorang yang patah hati karena kekasihnya. Cinta pertama selalu berakhir sendu, untung saja aku tak pernah merasakan cinta yang seperti itu. Dia sudah seperti orang gila, terkadang nangis, lantas tertawa sendiri, lalu memandang kosong. Seperti itu terus tingkahnya saat sedang kunasihati. Air mukanya sangat keruh, sekeruh kopiku saat mengenang memori itu.

"I can't deal with this anymore," kataku. Setelah fajar menyingsing, aku akan meninggalkan kota ini. Aku akan melupakan semua kenangan di kota ini. Aku tak tahan lagi.

Setelah pertemuan di kafe malam itu, keadaan semakin keruh. Ray tak lagi bersemangat dalam menerima pelajaran, ia bahkan tak pernah menyunggingkan senyum. Aku getir melihatnya. Aku tak kuasa melihat temanku yang satu ini bersedih di atas semua kebahagiaan yang sedang kurasa. Lantas kumarahi dia, kumaki, betapa bodohnya dia sebagai lelaki. Rasanya seperti wanita hanya ada satu di dunia ini.

Esoknya lagi, kami tak berbicara hingga seminggu. Datang, menerima pelajaran, pulang. Seperti itu terus, hingga suatu pagi di hari Jumat, tiba-tiba Ray berkata "Thanks Cik, gue sadar sekarang. Gue salah," sorenya dia mentraktir aku di kafe itu. Kami bahagia. Di bawah atap kafe itu, kami menghabiskan waktu berdua, mengalahkan lagu sendu yang sengaja diputar untuk menghanyutkan suasana kafe dengan teriakan tawa riuh kami. Merayakan kemenangannya atas hatinya yang lugu.
Pulangnya, ia mengantarkanku sampai rumah. Lantas aku mengenalkannya pada ibuku yang saat itu membukakan pintu. Ibuku hanya tersenyum melihat anak perempuannya bahagia dengan lelaki yang membawanya pulang. Aku geli dengannya, tak paham mengapa secepat itu Ray dapat melupakan perasaannya. Ada apa?

Tepat sebulan setelah ia putus dengan Nia, Ray bersikap konyol padaku. Tak jarang kulihat ia senyum-senyum sendiri, lalu salah tingkah, semacam itu. Usiaku saat itu 17 tahun, tepat 10 bulan setelah ulang tahunku, Ray menyatakan hal yang sangat tak terduga. Bukan ucapan cinta yang lazim dikatakan anak muda zaman sekarang, bukan juga komitmen yang membuatku tak dapat melangkah jauh. Perkataan yang muncul dari lubuk hati, perasaan yang tulus-lah yang membuatku mati kutu.

"Cik, aku tak tahu apa yang kurasakan, tapi, aku rasa aku kagum padamu. Kamu tidak seperti wanita pada umumnya yang cengeng, kamu bahkan tak bersifat seperti wanita-wanita lain yang sering kauceritakan padaku. Kamu berani memarahiku saat kamu merasa aku salah, kamu membantuku bangkit saat aku tak yakin dapat melanjutkan hidup. Kau tahu, Nia adalah cinta pertamaku. Namun, kukira aku tidak salah jika harus jatuh cinta lagi. Aku tak tahu dengan siapa orang itu, namun aku merasa cocok dengan wanita sepertimu."

Aku berada di Stasiun Tugu saat ini. Handphoneku sudah ku non-aktifkan semenjak keluar dari kafe tadi pagi. Dengan berbekal tekad, aku akan meninggalkan Jogja dan kenangannya. Aku akan merantau ke Solo pagi ini, ke rumah Bang Isan. Dia adalah anak dari teman kantor ayahku yang sudah sangat kukenal. Sebelum masuk kereta, kusempatkan menengok Maliobro yang terlihat dari kejauhan, memutar kembali sepenggal kisah yang ingin kutinggalkan.

"Kamu yakin dengan keputusan ini, Cik?"

"Seratus persen yakin, buk"

"Kuliahmu?"

"..."

"Mau kau hidupi dengan apa anakmu? Atas dasar apa tiba-tiba membuat keputusan mendadak begini. Jangan buat ibukmu ini bingung lah nak, apa kau tak kasihan pada ibukmu ini?"

"Aku sudah berpikir semalaman buk, aku yakin dengan keputusanku. Lagipula, Ray sudah mapan dari hasil usahanya membuka kafe. Bukankah sudah semua buk?"

"Sudah semua apanya, kalian ini ndak cocok. Umur kalian selsih berapa? Satu tahun pun tak sampai. Kuliahmu mau kamu apakan nak? Nikah itu ndak gampang. Sama halnya dengan membuat komitmen. Butuh waktu yang sangat lama hingga kau bisa memutuskan. Tak semudah ini, hanya semalam pula."

"Ibuk tahu Cika nggak mau pacaran buk, Cika sudah tidak sanggup menahan rasa yang bergelanyut di hati. Cika butuh ridha ibuk, sebagai ibuk terbaik Cika"

"Ah sudahlah nak. Coba fikirkan lagi dengan akal sehat. Kau ini sudah di racun Ray"


Maafkan Cika, buk.


A. Paramudita (Yogyakarta, 2016)

Jangan Lupa Membawa Cermin

Ingin jadi seperti apakah saya?

Apakah manusia di balik jubah kehormatan dunia, di bawah gemerlap kebahagiaan memabukkan hingga lalai segalanya. Hidup hanya untuk hari itu saja, harta benda ditukar kebahagiaan yang fana. 
Apakah budak yang selalu mematuhi perintah atasannya, bersenjata harga diri yang dijunjung tinggi hingga mati. Mengorbankan diri untuk sanak keluarga yang berarti 
Apakah manusia toa yang meneriakkan kebebasan-kebebasan hak yang direnggut tangan-tangan tak bertanggung jawab. Idealis, pragmatis menjadi teman sejati yang dibawa mati. 
Apakah sosok sosial pengabdi yang menjadi harapan bagi bapak, ibuk, adek, ponakan. Menghidupkan ruang-ruang kelabu di hati mereka yang lugu. 
Apakah manusia bercadar dan bercelana congkrang yang menjadikan hidup sebagai masa untuk mempersiapkan bekal demi kehidupan akhir. 
Apakah begini-begini saja. Layaknya air yang mengalir, terus mengalir hingga hilir. Mempercayai pada apa yang telah terjadi, menunggu takdir yang akan membawanya entah ke mana. Pasrah terombang-ambing ketidakjelasan atas pilihannya sendiri menjadi air. Terbawa arus.

Kitalah yang memilih akan menjadi seperti apa di masa depan. Lingkungan akan membantu kita menyesuaikan, jika kita betul-betul menginginkannya.

Nikmat yang sudah kita dapatkan hari ini, hidup yang kita jalani setiap hari, pengalaman yang tak berhenti kita gali, seperti inilah yang terbaik untuk diri kita. Apa yang kita dapatkan, jalani, gali, inilah yang Allah sudah tuliskan untuk hidup kita. Bersyukurlah atas apa yang telah Allah berikan. Karena yang baik di mata kita, belum tentu baik di mata-Nya.

Ketika kita lupa akan nikmat Allah, bercerminlah pada anak-anak yang dengan semangatnya bekerja demi bisa makan. Jangan lihat profesinya, lihatlah semangatnya, bercerminlah pada semangat anak itu. Sudahkah semangat kita seperti anak itu?

Lihatlah ketika anak-anak tersebut makan. Dengan cepatnya ia akan menghabiskan hasil jerih payah mereka. Mereka yang seharusnya disayang dalam pelukan hangat keluarga, bukannya disuruh-suruh mengerjakan ini itu. Di saat yang lain diajarkan bermimpi di bawah atap bangunan sekolah, di iming-imingi kehidupan yang layak setelah lulus nanti, mereka yang di jalan bebas bermimpi tanpa batas. Tak ada atap-atap bangunan sekolah yang bisa membentur mimpi mereka. Mereka bebas bermimpi di atas cakrawala jingga yang terhambur di angkasa.

Jangan lupa bersyukur.


[15.58]